Senin, 01 April 2019

Pelajaran Usuluddin - Rukun Iman Yang Pertama / part 2

B. Tuhan Allah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui

Tuhan Allah itu Kuasa, dan Paling Kuasa, bahkan Maha Kuasa.

Tuhan Allah itupun Mengetahui, bahkan Maha Mengetahui.

Kekuasaan itu disebut Qudraf: yabg berkuasa dikatakan Qaadir (Qaadiran) Qadiir.

Pengetahuan dalam bahasa Arabnya Ilmun: yang berpengetahuan disebut 'Aalim ('Aaliman).

Di dalam Al-Qur'an disebutkan:

اِنَّ اللّٰهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (البقرة ٢٠)

Sesungguhnya Allah itu Amat Berkuasa atas segala sesuatu (Al-Baqarah 20)

وَهُوَ القَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ (الانعام ٦١)

Dan Dia-lah Yang Maha Kuasa atas hamba-hamba-Nya. (Al-An'am 61)

وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (البقرة ٢٩)

Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (Al-Baqarah 29)

Menurut Akal (Dalil 'Aqli):

Mengingat dan memperhatikan segala apa yang dijadikan oleh Allah, niscaya seketika kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa Tuhan Allah itu Maha Kuasa dan Maha Mengetahui (Berpengetahuan Tinggi).

Keterangan 1

Apabila kita memperhatikan diri kita sendiri; makanan masuk ke dalam tubuh, kemudian terbagi ke tempat masing-masing di dalam tubuh, sedang tubuh itu berkembang dengan bermacam-macam bentuk dan coraknya; menjadi daging, menjadi rambut, menjadi kuku, menjadi tulang, menjadi zat cair dan seterusnya.

Dari semuanya itu kita akan lebih yakin dengan kekuasaan Tuhan Allah.

Keterangan 2

Apabila kita perhatikan peredaran bumi dengan bulan, dan bumi dengan matahari, dan dan peredaran beberapa planet yang lain yang teratur rapi, maka kitapun akan mengakui kekusaan Allah. Belum lagi kalau kita memperhatikan bintang yang jauh lebih besar dari bumi, dan berjuta-juta planet pula, juga teratur di cakrawala, maka tidak boleh tidak kita mengakui bahwa yang mengatur semuanya itu betul-betul Maha Kuasa dan Maha Tahu.

Keterangan 3

Apabila kita perhatikan biji tumbuh-tumbuhan yang dapat diketahui manusia, hanya di situ ada zat-zat yang bercampur secara kimia. Tetapi di balik itu masih ada rahasia pembuatan yang tidak dapat diketahui manusia, yakni dapatkah benih-benih itu mempunyai sifat dapat tumbuh berkembang, sehingga menjadi tumbuh-tumbuhan yang besar. Manusia belum dapat mencampur secara kimia yang sehingga dapat menimbulkan benih yang dapat tumbuh itu. Manusia hanya mengetahui tabiat (kebiasaan) atau khasiat dari tiap benih yang sudah dijadikan oleh Allah itu.

Demikianlah seharusnya tentang benih-benih, binatang, dan juga manusia.

Ringkasnya:

Segala apa yang kita lihat apabila kita perhatikan, niscaya kita akan percaya bahwa Tuhan Allah itu Maha Kuasa dan Maha Mengetahui.