G. Hukum Akal ('aqly)
Apabila kita menerima sesuatu keterangan, maka akal kita tentu akan menerima dengan salah satu pendapat atau keputusan hukum sebagai tersebut di bawah ini:
1. Memberikan dan mempercayainya.
2. Mengingkari dan tidak mau mempercayainya.
3. Memungkinkan, artinya boleh jadi dan boleh tidak jadi.
Putusan akal atau hukum akal yang pertama itu disebut wajib.
1. Wajib 'Aqly (وَاجِبٌ عَقْلِىٌّ)
2. Muhal atau Mustahil (مُسْتَحِيلٌ عَقْلِىٌّ)
3. Ja'iz atau mungkin (mungkin jadi dan mungkin tidak). (جَائِزُ عَقْلِىٌّ).
Contoh-contoh:
1. Wajib pada akal (pasti)
Apabila ada orang yang berpendapat bahwa:
a. 2×2=4
b. Satu itu sama dengan sepertiga dari tiga.
c. Segala benda itu kalau tidak bergerak pasti diam, dan apabila tidak diam tentu bergerak.
d. Seperempat kali seperempat sama dengan seperenambelas.
Maka semua pendapat itu akan diterima akal yang sehat, dengan membenarkan dan mempercayainya, dan itu namanya keterangan yang wajib diterima oleh akal (Wajib 'Aqly).
2. Muhal pada akal (tidak mungkin)
Apabila ada orang yang berpendapat bahwa:
a. 2×2=5
b. Ada benda yang suatu waktu tidak diam dan tidak bergerak.
c. Seperempat kali seperempat sama dengan seperdua kali tiga perempat.
Maka semua pendapat itu akan ditolak oleh akal yang sehat, tidak dapat dibenarkan dan tidak dapat dipercayai, dan itu namanya hal-hal yang muhal atau mustahil.
3. Ja'iz (mungkin)
Apabila ada orang yang berkata bahwa:
a. Si Fulan nantu akan mempunyai seorang anak.
b. Rumah ini akan rusak pada tahun ini.
Maka semua keterangan itu tidak akan ditolak smaa sekali oleh akal, dan tidak pula akan dipastikan kebenarannya dan dipercayai. Hal itu mungkin terjadi, dan mungkin pula tidak akan terjadi. Yang sedemikan itu namanya hal-hal yang mungkin atau jaiz.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar